Napak Tilas Tempat Lahirnya Kaum Hippies di Haight-Ashbury

San Francisco – Tatkala generasi bunga (Flower Generation) meledak, sebagian dari Anda dan saya belum lahir. Tapi pengaruhnya mampu menembus zaman hingga bisa dirasakan sampai saat ini. Terutama untuk urusan gaya hidup, fashion, musik dan pemberontakan anak muda.

Ya, apalagi kalau bukan fenomena remaja bandel penggila musik dan cinta yang berkembang dari persimpangan jalan Haight dan jalan Asbury, San Francisco. Kemudian, komunitas komunal paling gaul saat itu berkembang menjadi protes sosial, anti perang dan anti kemapanan dalam skala global.

Di persimpangan itu, detikcom berkesempatan menapak tilas generasi bunga tempat lahirnya kaum hippies, tradisi rock&roll dan pop culture seperti yang sekarang dikenal. Aroma Janis Joplin, Jerry Garcia, The Mamas and The Papas, Jimi Hendrix, Scott McKenzie hingga The Rolling Stone masih sangat kental sejak persimpangan pertama di dekat Golden Gate, 3 blok sebelum memasuki Haight-Asbhury.

“Ah..suka rock and roll juga ya? Harus ke sana (Haight-Asbury). Tato, tindik, celana robek. Keren banget,” kata Glen Afan, warga lokal yang bekerja untuk satu-satunya tempat makan khas Indonesia di San Francisco, Borobudur Restaurant.

Celetukan Glen tidak meleset. Sebab, tradisi tersebut memang belum luntur. Setidaknya terlihat dari wajah-wajah yang lalu-lalang, para musisi jalanan ataupun para bartender di kafe dan bar di Haight-Ashbury. Termasuk pilihan baju yang masih sangat orisinil: jins pudar, robek, atau ditambal; kaos sederhana dengan warna yang memudar, tua, bekas dan penuh warna-warni bunga; jaket ‘gembel’ dengan berbagai simbol atau lencana bordir yang ditempelkan.

Tidak cuma itu, dinding kota turut menjadi ajang ekpresi. Beragam mural bernada protes sosial maupun sindiran sarkasme mudah ditemui, meski tidak sebanyak di kawasan Mission District — 30 menit dari Haight-Ashbury. Salah satu yang paling menarik yakni mural Jimi Hendrix, musisi legendaris tahun 60-an yang memenuhi separuh bangunan dua lantai di samping toko buah. Ia mentereng berwarna hitam-putih dengan gitar yang sedang dimainkan.

Jika penyuka tato dan tindik, Haight Ashbury gudangnya. Hampir tiap 4 hingga 5 toko atau kafe, terdapat layanan keduanya. Itu belum termasuk asesoris pendukung seperti cincin tengkorak, liontin setan, gelang berduri dan apapun yang bertampang metal, emo, grunge, hingga asesoris para musisi beraliran psychedelic.

Bagi penggemar Ozzy Osbourne, Marilyn Manson atau musik-musik metal, Emo dan Rock and Roll, paling tepat berburu asesoris di tempat ini. Biasanya dikemas dalam toko vintage, namun vintage dengan tambahan Love of Death di belakangnya.

“Bau ganja kerasa banget,” tutur turis asal Indonesia, Lina yang kebetulan melintas di Haight-Asbhury menunjuk jenis narkoba yang di tempat ini adalah legal.

Kendati terdengar liar dan seram, Haight Asburry ramah bagi turis. Tidak ada yang namanya memaksa untuk mendapatkan saweran dari para turis oleh musisi jalanan. Menanyakan jalan atau alamat, mereka akan menjawab dengan santun dan selalu mengakhiri dengan say thanks atau have a nice day.

Perilakunya juga tidak jorok, tanpa membuang sampah sembarangan dan tetap merokok di tempat yang disediakan. Tidak tercium bau pesing di jalanan utama atau jalan kecil antar blok di kawasan itu. detikcom yang mencari grafiti atau coretan dinding dari cat semprot yang semrawut dan kotor, tidak berhasil. Kalaupun ada, dibuat sangat artistik dan di tempat yang tepat.

Di Haight-Ashbury pula, siapapun dapat melihat bangunan rumah bergaya Victorian yang otentik, yang berhasil selamat dari gempa besar tahun 1906. Gempa besar itu meratakan sepertiga kota San Francisco. Saking orisinilnya, rumah-rumah ini lebih mirip museum dengan vespa tua dan balkon setengah heksagonal yang melegenda. Atapnya mengerucut, menyerupai menara kastil yang berhasil memberi kesan berkarakter dan identitas kuat. Warna cat pastel atau merah maron menjadi pemandangan jamak.

Tidak mengherankan jika bus wisata hop on hop off (bus dengan atap terbuka) melintasi tempat ini sebagai bagian atrakti turis. Namun bagi yang ingin membuat napak tilas lebih mendalam, berjalan kaki menyusuri Haight-Ashbury menjadi ‘perjalanan relijius’ yang tidak bakal tergantikan.

“Jalanan Haight Street hari ini membangkitkan nostalgia. Juga membuat kita merindukan tempat yang pernah menjadi pusat perdamaian dan cinta,” tulis Huffington Post dalam salah satu artikelnya menunjuk perlawanan perang Vietnam tahun 60-an dari di tempat ini.

Jadi, tidak ada salahnya mampir ke Haight-Ashbury jika sedang berkunjung ke San Francisco. Merasakan generasi Summer of Love, musik psychedelic, Pink Floyd atau mengikuti lirik Scott McKenzie dalam lagu San Francisco:

Iklan

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s