Istri: Ditawari Jadi Jenderal, Bung Tomo Pilih Jadi Orator

Jakarta – Pada usia 90 tahun, kondisi kesehatan Sulistina Sutomo memang tidak lagi fit. Toh, ia masih sering memaksakan diri bepergian ke luar rumah. Pada Jumat, 6 November 2015, misalnya, perempuan kelahiran Malang, Jawa Timur, 25 Oktober 1925, itu meluncur dari kediamannya di Kota Wisata, Cibubur, ke arah Pasar Pramuka, Jakarta Timur, untuk membeli obat. Sayang, sebelum sampai ke tujuan, sedan Toyota Vios warna perak yang ditumpanginya mogok dan harus masuk bengkel di Cibubur Point Automotive Center. “Saya sudah tua, tidak se-fit tahun-tahun lalu,” kata Sulis kepada detikcom.

Ia duduk lemah bersandar bantal putih di jok belakang. Meski kelihatan rapuh, garis kecantikan istri Pahlawan Nasional Bung Tomo itu masih membekas. Enam tahun lalu, Sulistina masih sanggup menyalin surat-surat maupun sajak-sajak pribadi Bung Tomo ke komputer jinjing milik cucunya. Tapi kini nenek 11 cucu dan 4 cicit itu sering kali meminta jeda untuk mengingat-ingat momen bersejarah yang dialami bersama sang suami.

Berikut ini petikan bincang-bincang Kustiah dari detikcom dengan Sulistina sambil menunggu para montir memperbaiki mobilnya.

Bagaimana Ibu mengenang sosok Bung Tomo?

Bung Tomo itu sosok pemberani. Saat tahu Belanda akan masuk Indonesia, beliau segera datang ke anak-anak dan keluarganya, bilang bahwa tindakan Belanda tidak bisa dibiarkan, karena kemerdekaan sudah diproklamasikan. Artinya, Indonesia sudah merdeka. Bung Tomo lalu mendatangi orang-orang tua di pemerintahan untuk konsultasi.

Oleh mereka, Bung Tomo ditanya, “Mau pakai apa kalau melawan. Kita berhadapan dengan musuh pemenang Perang Dunia II. Kita tidak punya apa-apa untuk melawan.” Namun Bung Tomo tidak kecil hati. Meski tidak bersenjata canggih seperti musuhnya, Bung Tomo pantang menyerah. Beliau punya ide untuk mengobarkan semangat para pemuda melalui pidato. Bung Tomo diizinkan gubernur dan dikasih corong, padahal Belanda saat itu sudah masuk dan nembak-nembak.

Bung Tomo saat kampanye di Pemilu 1955 (dok. Perpusnas)

Sampai akhirnya Bung Tomo tetap memilih pidato dari satu tempat ke tempat lain ketimbang menjadi jenderal. Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin pernah menawari Bung Tomo, mau jadi jenderal atau memilih pidato. Bung Tomo memilih menjadi seorang orator dan berpidato di mana-mana.

Bung Tomo menikah dengan Sulistina tahun 1947 (dok. Perpusnas)

Apa yang membuat Bung Tomo punya keberanian seperti itu?

Prinsip Bung Tomo, kesewenang-wenangan tidak bisa didiamkan. Dengan cara apa pun, sesuatu yang tidak benar harus dilawan. Meski tidak memiliki senjata, beliau merasa tetap harus melakukan sesuatu. Tidak boleh diam dan membiarkan.

Saking beraninya, di kemudian hari Bung Tomo juga kerap melawan Bung Karno?

Bung Tomo dekat dengan Bung Karno. Namun, di kemudian hari, hubungan menjadi renggang karena perbedaan politik. Pertama tentang informasi yang didapat Bung Tomo bahwa Rusia memasok senjata untuk Partai Komunis Indonesia. Bung Tomo menyampaikan informasi itu, tapi Bung Karno tidak percaya. Juga beberapa sikap politik Bung Karno yang berseberangan dengan Bung Tomo. Misalnya kasus Irian. Bung Tomo menganggap Irian sebagai bagian dari Indonesia. Tapi kabinet waktu itu menyatakan Irian bukan bagian dari Indonesia, melainkan bagian dari Belanda. Karena perbedaan pandangan ini, Bung Tomo sampai berdiri dan menggebrak meja.

Bung Tomo menggendong Megawati disaksikan sang istri (dok. Perpusnas)

Bung Tomo pernah dipenjara pada masa Orde Baru. Apa sebabnya?

Saat itu Bu Tien Soeharto sedang sibuk merancang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah. Bung Tomo mendengar informasi bahwa Bu Tien meminta para pengusaha memberikan 10 persen keuntungan usahanya untuk pembangunan TMII. Lalu Bung Tomo menyampaikan informasi itu dalam setiap pidatonya. Bu Tien dan Pak Soeharto sepertinya tersinggung dan menangkap Bung Tomo dengan alasan Bung Tomo telah melakukan upaya subversif dalam setiap pidatonya. Selama Bung Tomo setahun dipenjara (1978-1979), tidak ditemukan bukti upaya subversif seperti yang dituduhkan. Dan beliau mengatakan kepada saya bahwa ia yakin akan segera keluar dari penjara. Begitu keluar, beliau langsung memeluk dan menggendong saya di depan umum di kantor kejaksaan.

Bung Tomo saat di penjara (Repro: buku Bung Tomo Menggugat)

Bung Tomo dendam kepada Soeharto?

Bung Tomo tidak mendendam. Justru saya yang marah. Saat Bung Tomo ditahan, saya mengirim surat protes kepada Pak Harto. Saya sampaikan, “Orang yang sudah mempertaruhkan jiwa raganya untuk mempertahankan kemerdekaan negaranya tidak mungkin mengkhianati bangsanya sendiri.” Nyatanya, tuduhan yang ditujukan kepada Bung Tomo dengan memenjara selama setahun tidak terbukti.

ilustrasi: Edi Wahyono
Iklan

Diterbitkan oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s